Sekolah Sebagai Laboratorium

Oleh Arif Yudistira*)

 Guru di sekolah tak hanya dikenal sebagai pendidik semata. Tetapi ia menjalankan fungsi yang lain, yakni sebagai seorang pembelajar. Dari pagi ketika ia berangkat ke sekolah bersama hangat mentari, ia sudah menjadi pengamat ulung di jalanan yang ia lewati. Bisa saja ia mengamati bagaimana murid-muridnya menyapanya di jalanan. Belum lagi saat ia sampai di sekolah menyambut anak-anak berdiri di depan gerbang sekolah. Ia disuguhi berbagai pemandangan bagaimana perilaku orangtua yang bervariatif mengantarkan para jagoannya. Ada yang langsung tancap gas, ada yang turun dari mobil sembari mengucap doa dan harapan kepada anaknya, ada yang menciumi kening anaknya dulu.Di pagi hari saja, guru sudah belajar tentang banyak hal fenomena yang ia tekuni, dan ia amati tiap hari. Diam-diam, seorang guru juga seorang peneliti. Saat pelajaran di kelas, adalah saat-saat tepat bukan hanya melihat respon anak, tapi juga belajar bagaimana psikologi anak di dalam kelas saat pelajaran. Mengapa anak cenderung usil, minta perhatian, mengapa ada anak cenderung tak fokus atau tak konsentrasi saat pelajaran, mengapa kita memerlukan waktu efektif untuk memasukkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak kita. Sekolah, dunia yang ada di dalamnya, pada kenyataannya adalah laboratorium yang dihadiahkan kepada guru. Maka sungguh malang dan apes tatkala guru tak mau belajar dan mempelajari apa yang ada di sekolah. Bila guru hanya menjalankan rutinitas mengajar semata, maka pekerjaan ini pun bisa digantikan oleh benda mati. Mengapa guru dianggap mampu mengemban beban ini?. Konon, hati dan pikiran guru tak pernah berhenti untuk bekerja di dalam aktifitasnya. Di dalam hatinya, guru teramat peka sekali dengan aktifitas-aktifitas anak-anak yang menyentuh nuraninya. Bagaimana anak belajar berbagi, bagaimana anak bersemangat di setiap paginya, sampai dengan bagaimana anak yang tak terurus sekalipun di rumah masih harus bergegas memaksa dirinya untuk belajar. Fenomena-fenomena ini mengasah hati guru untuk bukan hanya peka, tapi melihat dengan cakrawala lebih luas.

Kalau kita memperhatikan, seorang guru adalah seorang yang bijak. Ia dituntut serapi mungkin menyembunyikan pikiran penatnya. Ia dituntut untuk tak meluapkan pikiran penatnya di sekolah. Ia dituntut ceria, dan senantiasa gembira tatkala bertemu murid-muridnya. Maka tatkala ia di sekolah, anak-anak yang tersenyum ceria, riang itulah obat bagi kepenatannya. Sedang sebaliknya, tatkala anak-anak murung, tak semangat, sakit, bertambah pula sakit dan derita pikirannya.Ekosistem lingkungan di sekolah dengan berbagai dinamikanya adalah tempat yang memungkinkan bagi guru untuk terus menyerap dan membagi pengalaman dan kerja kreatifnya. Sebagai insan pendidik, ia paling mengerti bagaimana perkembangan anak-anak mereka. Pengalaman-pengalaman menghadapi masa-masa tumbuh kembang itu, adalah pengalaman berharga yang tak bisa dilupakan. Guru bisa membaginya kepada publik melalui tulisan-tulisan dan catatan harian yang bisa bermanfaat setidaknya bagi dirinya sendiri. Apa manfaatnya?, sungguh bila kita mampu berbagi kepada publik tentang emosi-emosi saat kita mengajar, kejutan saat kita di kelas, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri.Secara kompetensi, guru memang dituntut tak hanya memiliki kemampuan pedagogik yang baik, tetapi juga kemampuan sosial yang memadai. Sebagai insan yang dilatih dan dididik untuk mempersiapkan generasi masa depan, menjadi guru harus mampu memiliki kecakapan sosial yang mau tak mau menuntutnya luwes bergaul di segala lini masyarakat. Kedudukannya yang dipandang di masyarakat, membuatnya tak hanya jadi sorotan, tetapi juga dibebani misi sosial yang diharapkan mampu mengubah pola, kebiasaan, serta merubah krisis adab yang selama ini terjadi bisa dikikis.

Dengan semua media yang ia dapatkan di sekolah, pelatihan-pelatihan, serta fasilitas yang ada, guru dituntut menjadi manusia yang terus memperbaiki diri dan terus berkreasi. Sudah bukan saatnya lagi guru santai-santai, datang absen, kemudian pulang. Sistem kerja guru bukan saatnya lagi meniru gaya orde baru Asal Bapak Kepala Senang. Kini, tantangan menjadi guru semakin kompleks dan rumit. Guru dituntut untuk terus belajar, tak hanya tentang materi semata, tetapi juga teknologi. Rasanya bukan saatnya lagi bagi guru untuk menutup diri dari perkembangan teknologi yang demikian pesatnya. Bila guru hanya mengurung diri dalam kemunduran teknologi, ia tak bisa memantau, menghadapi bagaimana muridnya begitu akrab dengan media sosial yang begitu dahsyat efeknya. Guru tak boleh hanya diam, ia memiliki kewajiban serta tanggungjawab untuk menyeru, mengingatkan bagaimana agar anak-anak bijak dalam menghadapi media sosial.

Psikologi anak-anak kita saat ini begitu berbeda dengan di masa dulu. Anak-anak kita bukan hanya cepat secara motorik dan visual, tetapi juga begitu cepat perkembangan sosial dan lingkungannya. Hal ini bukan hanya menuntut guru untuk terus menyesuaikan diri dan terus belajar. Anak-anak sekolah dasar saat ini sudah begitu masif memiliki komunitas antara sesama pelajar melalui media sosial. Mereka bisa kerap bertemu di tempat makan, berswafoto, dan mengunggah foto-foto mereka di media sosialnya. Bila guru terus mengurung dan cuek tak mau tahu perkembangan anak yang demikian, ia bisa tertinggal dari murid-muridnya. Dalam artian, guru tak bisa mengikuti gaya murid-murid sekarang, serta masuk kedalam dunia mereka, serta menasehati mereka bila guru tak tahu dunia yang dihadapi murid-muridnya.Dengan kemampuan yang dimiliki oleh guru, guru bisa mengajak murid-muridnya bereksplorasi, berkreasi, serta berpetualang setiap hari di sekolah. Anak bisa diajak untuk mengeksplorasi setiap kemampuan yang dimilikinya untuk dioptimalkan di sekolah. Bukan hanya melalui ekstra kurikuler, tetapi juga melalui kemampuan gurunya sebagai pendidik, pembimbing, dan pembaharu. Karya-karya anak yang selama ini menumpuk bukan hanya bisa dipasang di majalah dinding sekolah, di cetak di majalah sekolah, sampai dengan diterbitkan oleh sekolah. Terlebih di era sekarang, bukan mustahil bagi guru dan sekolah untuk mengapresiasi anak didik mereka untuk terus berkarya dan beraktualiasi semaksimal mungkin. Bila sekolah difungsikan sebagai laboratorium belajar bagi guru dan murid, bukan tidak mungkin muncul karya-karya bukan hanya dalam bentuk penelitian, dan buku-buku, tetapi juga kreatifitas, inovasi yang tak mengenal lelah dari para civitas akademika di sekolah. Sudah tentu sekolah yang demikian, akan menjadi sekolah yang maju dan semakin diminati masyarakat.


*) Penulis adalah Peminat Dunia Pendidikan dan Anak, Pengasuh MIM PK Kartasura 

*) tulisan dimuat di Joglosemar 15 maret 2017

Komentar