Insting, Lahir dan Batin Anak-Anak Kita

http://rumahkreatifwadaskelir2013.blogspot.co.id/ 
Oleh  Arif Saifudin Yudistira*)
Di waktu taman kanak-kanak, saya merasakan betul bahwa belajar itu menyenangkan. Semakin ke sini, belajar menjadi begitu formal, kaku, dan tentu saja semakin serius. Dulu, belajar itu bermain, bermain itu belajar. Buku, adalah sarana pendamping, yang pokok adalah bermain, hati senang, pikiran tenang. Semakin dewasa, pendidikan jadi semakin serius, semakin tegang. Bagaimana tidak, di Sekolah Dasar saja kita tak boleh dapat nilai jelek kalau dapat nilai jelek kita tak lulus. Ki Hajar Dewantara mengambil nama sekolah bukan schul sebagaimana Frobelschool. Tetapi mengambil nama taman, taman siswa ingin menjadi ruang pendidikan yang kuturil dan nasional ( 1959 : 15).
       Konsep pendidikan mestilah demikian halnya. Di dalam taman, tentu saja sejuk udaranya, luas halaman bermainnya, banyak pohon rindang dan bunga-bunga. Apa maksud filosofisnya?, Ki Hajar Dewantara tak hendak melepaskan pendidikan dari alam sekitar. Alam, adalah sesuatu yang lekat dari pendidikan. Maka pendidikan di taman siswa bukanlah pendidikan yang terpisah, dan menjauh dari alam. Apa saja dasar-dasar pendidikan di taman kanak?.Ki Hajar Dewantara pernah menulis risalah pendek tentang pendidikan usia dini di bukunya Taman Indrya (1959). Buku kecil ini hanya berisi 32 halaman, tetapi memuat konsep-konsep penting pendidikan di usia dini. Ki Hajar memadukan konsep pendidikan ala Frobel dengan Montessori. Pada dasarnya pendidikan di usia dini menurut Ki Hajar adalah menghindarkan perintah. Djauhkanlah perintah dan paksaan, ketjuali memang sungguh perlu. Di Taman Siswa waktu itu, pendidikan anak usia dini menggunakan metode sari-swara.
        Menurut Ki Hajar, usia dini adalah usia 0-7 tahun. Metode sari-swara adalah metode menggabungkan peladjaran-peladjaran lagu, sastera, dan tjeritra. Dalam gabungan tiga matjam pelajaran ini tergabunglah pula pendidikan rasa, fikiran, dan budi pekerti ( Dewantara, 1959:7).Banyak sekali permainan di dalam kebudayaan kita yang menggunakan lagu, gerak, sekaligus mengasah pikiran atau kecerdasan kita. Di usia dini, anak-anak perlu dilatih instingnya. Maksudnya, anak-anak di usia dini diberi kesempatan untuk mengekspresikan segala keinginan, dorongan, nafsu, serta kekuatan-kekuatan lainnya.

       Ki Hajar Dewantara dalam menyarankan dalam mendidik anak-anak kita, hendaklah anak-anak dibebaskan, serta diberi arahan, bukan larangan. Untuk mendorong pendidikan lahiriah anak-anak diberi ruang untuk bergerak seleluasa mungkin. Sebab di masa usia dini itulah anak-anak sedang ada di dalam pertumbuhan motorik yang luar biasa. Sedangkan untuk mendidik batinnya, anak-anak perlu didekatkan dengan cara-cara yang sesuai dengan jiwa mereka dengan permainan, kerajinan, serta menyanyi. Sekolah-sekolah usia dini hendaknya mengubah sistem yang berorientasi pada fikiran atau kognitif seperti baca, tulis, hitung. Menurut Ki Hajar Dewantara, pada periode anak-anak (0-7 tahun) belumlah waktunya kanak-kanak belajar menggunakan pikirannya. Jiwanya masih bersifat utuh, bulat, atau total dan belumlah disitu nampak differensiasi tri-sakti manusia : pikiran, rasa dan kemauan. *

*) Arif Yudistira, Peminat Dunia Pendidikan dan Anak, Penulis Buku Ngrasani! (2016)

Tulisan dimuat di anggunpaudkemendikbud 28 maret 2017

Komentar