Pudarnya Pendidikan Gerak di Sekolah Kita



liputan6.com
Oleh Arif Yudistira*)
            Pendidikan di abad XXI memang cenderung melupakan gerak. Pendidikan lebih mengarah pada aktifitas yang tak banyak melibatkan tubuh secara lebih luas. Tuan dan puan bisa menengok bagaimana sekolah-sekolah kita sekarang. Hampir di dalam kelas tak terlihat anak-anak bergerak dan menggerakkan tubuh mereka. Padahal gerak, adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Porsi bergerak di dalam kelas, dapat berkurang drastis daripada ketika anak-anak di luar kelas.
            Simaklah keadaan anak-anak kita saat istirahat tiba, tentu mereka akan meluapkan semua anggota tubuh mereka untuk bergerak. Memang demikianlah mestinya sifat anak-anak kita, banyak bergerak, banyak bermain. Sebab disanalah sebenarnya terkandung ilmu hidup, sebab hidup sendiri tak lain adalah gerak. Di sekolah dasar sekarang, pelajaran kesenian lebih tertuju pada alat-alat modern. Anak-anak jarang sekali mengambil bahan-bahannya dari alam. Pada penugasan atau projek belajar di sekolah itu sebenarnya ada nilai-nilainya. Saat anak berusaha mencari bahan seperti tanah liat di gunung, anak-anak belajar tentang gunung, tentang pohon, tentang alam tanpa mereka sadari. Sedangkan saat mereka mengubah tanah liat menjadi kerajinan itu, disanalah pelajaran kreatifitas dan seni diletakkan.
            Mohammad Sjafei di bukunya Dasar-Dasar Pendidikan (1979) menuliskan sembilan belas bahan yang bisa digunakan sebagai pekerjaan tangan pada sekolah-sekolah dasar diantaranya : tanah liat, pasir, janur, kulit kelapa, sabut kelapa, kertas koran untuk dicabik-cabik, timah pembungkus rokok, bambu, ranting-ranting kayu, tempurung, papan-papan tipis, triplex, kaleng kosong, kawat, batang padi, tanduk, tulang, dan lain-lain.
            Bahan-bahan itu tak hanya bisa dimanfaatkan dalam berbagai mata pelajaran seperti matematika, ipa, kesenian, sampai dengan bahasa inggris sederhana. Saat ini, berbagai bahan-bahan tadi jarang digunakan dalam pelajaran di sekolah-sekolah kita. Sekolah-sekolah kita saat ini lebih banyak menggunakan buku, tulis, dan komputer beserta LCD. Secara otomatis, penggunaan perangkat-perangkat teknologi tadi semakin menggeser gerak tubuh anak-anak kita. Anak-anak pun menjadi semakin kaku, serius, dan kurang gerak. Padahal, ketegangan dalam pelajaran bisa dikurangi dengan mengajak anak-anak kita untuk lebih banyak bergerak dan praktik. Pembelajaran melalui tubuh lebih membantu ingatan mereka lebih lama.
            Prof.Dr. G.Revesz dalam bukunya Tangan Manusia,Suatu Studie Psichologie menuliskan : “ Dalam perkembangan dan pertumbuhan manusia lahir dan batin, waktu melakukan pekerjaannya di masyarakat, pada tiap-tiap lapangan, tangan yang aktif menduduki tempat yang penting”. Dalam bagian lain ia mengatakan “tangan manusia  adalah suatu alat sejagad yang sangt dikagumi. Itu dialaminya ketika ia mengambil bagian di dalam berbagai-bagai macam pekerjaan. Tangan yang mula-mula hanya dipergunakan untuk menangkap atau memegang, otak mengubahnya menjadi tangan yang bekerja” (Sjafei, 1979: 119). Di buku Pendidikan Rumah Tangga Pangkal Keselamatan Negara (1955) Mohammad Said menuliskan : “guru itu akan menerangkan peladjaran itu dengan segala gerak, utjapan, dan laku jang perlu dan pantas. Disini perlu didjaga, supaja anak-anak djangan terlalu lama mendengar sadja; sekali-sekali hendaknja anak-anak itu dapat tertawa”.
            Nyatalah bahwa pendidikan pada akhirnya juga memerlukan gerak sebagai dasarnya. Bila anak-anak tak diajak bergerak, maka ingatan mereka menjadi lebih terbatas. Sedangkan dengan menggunakan gerak anak-anak bisa mengingat dengan tubuh, serta pikiran mereka. Karena tubuh mereka ikut terlibat. Praktik pendidikan yang melibatkan gerak ini bisa dilakukan dengan berbagai kreasi guru. Kertas-kertas bisa digunakan untuk melatih anak dalam melibatkan tubuh mereka. Misal saja mengajak anak untuk menggunting, menempel, serta mewarnai. Dari hal ini, anak-anak belajar bahwa ketepatan, ketelitian dan keseriusan dalam belajar itu penting. Sebagaimana ketika kelak mereka hidup di dalam alam realitasnya, mereka akan bekerja sebaik-baiknya. Sebaliknya, bila anak-anak sudah menyepelekan, tak memperhatikan, serta menganggap remeh pekerjaan menggunting, menempel, mewarnai, hal ini kelak akan berakibat pada kehidupannya di masa mendatang. Ia akan cenderung menjadi anak yang malas, tak tuntas dalam bekerja, serta meremehkan arti pekerjaan.
            Pendidikan yang melibatkan gerak tubuh anak-anak kita memang semakin menghilang. Teater, drama bila dulu masih banyak kita jumpai di sekolah dasar bahkan, kini semakin tak ada. Padahal di teater itulah berpadu antara pendidikan berbasis linguistik (bahasa), psikologi(saat mereka memainkan peran) dan juga kinestetik (gerak). Faktor lain yang menyebabkan hal ini tentunya adalah semakin jarangnya guru mempelajari ilmu-ilmu mendidik serta kurikulum di masa lampau. Sehingga guru lebih condong pada metode pengajaran modern tanpa melihat aspek-aspek filosofis dan nilai gunanya.

*) Pengasuh MIM PK Kartasura, Peminat Dunia Pendidikan dan Anak, Penulis Buku Ngrasani! (2016)
*) Tulisan dimuat di SOLOPOS rubrik Edukasi 26 februari 2017

Komentar